ITP (Immune Thrombocytopenic Purpura) – Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Penyakit ITP (Immune Thrombocytopenic Purpura)

Terdapat berbagai ajenis penyakit yang dapat menyerang sistem imun atau kekebalan tubuh dalam manusia, dan salah satunya adalah penyakit ITP. Penyakit ini merupakan sejenis penyakit gangguan darah yang berdampak pada sistem kekebalan tubuh manusia, yang mana sistem kekebalan tubuh malah menyerang trombosit yang sehat di dalam tubuh. Siapa saja bisa terkena penyakit ini akan tetapi anak-anak dengan usia 2-5 tahun dan orang dewasa usia 20-50 tahun akan memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena ITP.

Gejala ITP

Sama seperti jenis penyakit lainnya, penyakit ITP juga memiliki beberapa macam gejala yang muncul pada diri penderitanya. Gejala paling umum yang bisa muncul dalam penderita ITP adalah terjadinya perdarahan dan juga adanya ruam pada permukaan kulit seperti bintik-bintik merah.
Gejala lain yang mengikuti pada diri penderita ITP adalah gusi yang berdarah, kemudian buang air besar yang disertai campuran darah, menstruasi yang tidak kunjung selesai, dan mimisan (perdarahan dari hidung). Perlu diingat pula bahwa ketika seseorang mengalami perdarahan yang tidak berhenti dalam waktu 5 menit maka akan lebih baik jika langsung berkonsultasi ke dokter karena bisa menjadi tanda awal ITP.

Penyebab ITP

Penyebab ITP belum diketahui secara pasti hingga saat ini. Namun, dugaan utama penyebab ITP adalah gangguan pada sistem kekebalan tubuh yang disebut penyakit autoimun.

Pada penderita ITP, sistem kekebalan tubuh menganggap sel keping darah (trombosit) sebagai benda asing yang berbahaya, sehingga dibentuk antibodi untuk menyerang trombosit. Hal inilah yang menyebabkan jumlah trombosit menurun.

Selain itu, beberapa hal berikut ini juga dapat memicu munculnya ITP:

  • Infeksi virus atau bakteri, umumnya pada anak-anak
  • Vaksinasi
  • Paparan racun atau bahan kimia berbahaya, misalnya insektisida
  • Penyakit autoimun lain, misalnya lupus
  • Pengobatan kemoterapi.

Diagnosis ITP

Pihak medis akan memeriksa seluruh bagian tubuh pasien untuk mendeteksi memar atau perdarahan. Jika terjadi perdarahan akibat luka, pihak medis akan memeriksa kondisi luka tersebut dan segera mengobatinya.

Selanjutnya, pihak medis akan melakukan pemeriksaan darah untuk melihat jumlah trombosit. Jumlah trombosit normal adalah 150.000−400.000 per mikroliter. Penderita ITP memiliki trombosit di bawah nilai normal. Makin rendah trombosit, maka risiko perdarahan akan makin meningkat.

Tidak ada pemeriksaan yang bisa memastikan ITP, sehingga dokter akan mencari dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain yang dapat menimbulkan perdarahan dan rendahnya jumlah trombosit. Pemeriksaan yang bisa dilakukan antara lain:

  • Uji fungsi hati
  • Pemeriksaan fungsi ginjal
  • Aspirasi sumsum tulang.

Penanganan ITP

Pihak medis akan menilai seberapa parah ITP yang dialami penderita. Keparahannya dapat dilihat dari gejala yang muncul dan jumlah trombosit. Pada ITP yang ringan, tidak diperlukan penanganan secara khusus, namun pihak medis tetap akan memantau dan melakukan pemeriksaan trombosit secara rutin untuk mencegah perdarahan.

Sedangkan pada ITP yang lebih parah, pihak medis akan memberikan penanganan untuk menjaga jumlah trombosit agar tidak turun, sehingga tidak terjadi perdarahan. Penanganan ITP dapat diberikan dalam bentuk:

Obat-obatan
  • Kortikosteroid
    Kortikosteroid berfungsi untuk menekan sistem kekebalan tubuh dan jumlah trombosit. Dokter akan memberi instruksi kepada pasien untuk berhenti mengonsumsi obat ini, jika jumlah trombosit sudah kembali normal.
  • Eltrombopag
    Jenis obat ini digunakan untuk membantu sumsum tulang agar dapat memproduksi lebih banyak trombosit.
  • Rituximab
    Rituximab berfungsi untuk meredakan respons sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan rusaknya trombosit.
  • Intravenous immunoglobulin (IVIg)
    IVIg adalah obat yang diberikan untuk meningkatkan jumlah trombosit ketika obat lain tidak lagi efektif dalam mengatasi ITP. Obat ini juga digunakan untuk meningkatkan jumlah darah ketika pasien mengalami perdarahan sebelum menjalani operasi.
Operasi

Jika ITP sudah parah dan obat-obatan tidak lagi efektif dalam mengatasi gejala yang muncul, dokter akan melakukan operasi pengangkatan organ limpa atau splenektomi.

Prosedur splenektomi bertujuan untuk mencegah penghancuran trombosit di organ limpa. Meskipun demikian, prosedur operasi ini jarang sekali dilakukan karena berisiko menimbulkan infeksi.

Komplikasi ITP

Komplikasi ITP yang dapat terjadi adalah akibat perdarahan, baik di saluran pencernaan maupun di organ tubuh lainnya. Perdarahan yang terjadi di otak dapat membahayakan nyawa penderitanya, namun kondisi ini sangat jarang terjadi.

Penggunaan kortikosteroid cukup efektif dalam mengobati ITP. Meski begitu, obat ini berpotensi menyebabkan efek samping jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Efek samping yang dapat muncul adalah:

  • Katarak
  • Osteoporosis
  • Diabetes
  • Hilangnya massa otot
  • Operasi pengangkatan organ limpa dapat meningkatkan risiko terkena infeksi bakteri, karena limpa berperan dalam melawan infeksi.

Penderita ITP yang sedang hamil dapat menjalani masa kehamilan dan persalinan secara normal. Namun, konsultasikan dengan dokter kandungan mengenai hal-hal apa saja yang perlu dilakukan dan dihindari, baik selama kehamilan maupun persalinan.

Perlu diketahui, bayi yang lahir dari penderita ITP berpotensi memiliki jumlah trombosit yang rendah. Jika hal ini terjadi, specialist anak akan melakukan pengawasan intensif pada bayi selama beberapa hari.

Dalam kondisi normal, jumlah trombosit bayi akan menurun sebelum akhirnya naik kembali. Namun jika jumlah trombosit bayi tidak juga meningkat selama beberapa hari, dokter akan memberikan penanganan untuk mempercepat peningkatan trombosit.

Pencegahan ITP

Meskipun ITP sendiri tidak dapat dicegah, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya perdarahan, yaitu:

  • Lindungi diri Anda dari hal-hal yang dapat menyebabkan cedera.
  • Konsultasikan kepada pihak medis tentang obat-obatan yang aman untuk Anda konsumsi. Pihak medis akan melarang penggunaan obat yang dapat memengaruhi kadar trombosit dan meningkatkan risiko perdarahan, seperti aspirin atau ibuprofen.
  • Segera hubungi ahli jika Anda mengalami gejala infeksi, misalnya
  • Tindakan ini penting dilakukan jika Anda menderita ITP atau telah menjalani pengangkatan organ limpa.