Gangguan Bipolar - Gejala, Penyebab dan Cara Mengobati

Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar atau yang biasa dikenal sebagai bipolar disorder merupakan kondisi mental yang mengakibatkan penderitanya mengalami perubahan mood secara ekstrim. Penderita gangguan mental ini dapat mengalami lonjakan perasaan secara tiba-tiba. Dalam satu waktu dia bisa merasa sangat bahagia kemudian pada detik berikutnya dia juga bisa merasa sangat sedih.
Pada penderita gangguan bipolar akut, perubahan mood yang dialaminya bisa benar-benar cepat tanpa bisa dia kendalikan lagi perasaannya tersebut. Saat merasa bahagia, penderitanya akan merasa sangat bergairah dan bersemangat sekali dalam menjalani kehidupannya.
Akan tetapi sebaliknya, saat merasa sedih, kesedihan yang dirasakannya pun sangat mendalam hingga tak jarang penderitanya akan melakukan bunuh diri.
Gangguan bipolar ini pada umumnya memiliki kesulitan dalam mengendalikan perasaannya sendiri. Hingga tak heran jika kebanyakan penderitanya merasakan kesulitan dalam menjalin hubungan sosial dengan orang-orang di sekitarnya.

Penyebab Gangguan Bipolar

Penyebab gangguan mental tersebut sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Namun berdasarkan penelitian para ahli, gangguan bipolar adalah dampak dari terganggunya senyawa alami yang ada pada tubuh manusia yang fungsinya ialah menjaga kinerja otak sebagai neurotransmitter alami yang dimiliki oleh tubuh.
Pemicu terganggunya neurotransmitter ini sendiri dapat berasal dari beberapa faktor, yaitu :

  1. Faktor fisik si penderita itu sendiri
  2. Faktor lingkungan yang tidak mendukung kesehatan mental
  3. Faktor sosial yang buruk maupun
  4. Faktor genetik dari si penderita.

Gejala Gangguan Bipolar

Terdapat dua fase dalam gangguan bipolar, yaitu fase mania (naik) dan depresi (turun). Pada periode mania, pengidapnya jadi terlihat sangat bersemangat, enerjik, dan bicara cepat. Sedangkan pada periode depresi, pengidapnya akan terlihat sedih, lesu, dan hilang minat terhadap aktivitas sehari-hari.

Berdasarkan perputaran episode suasana hati, ada sebagian pengidap gangguan bipolar yang mengalami keadaan normal di antara mania dan depresi. Ada juga yang mengalami perputaran cepat dari mania ke depresi atau sebaliknya tanpa adanya periode normal (rapid cycling).

Selain itu, ada juga pengidap yang mengalami mania dan depresi secara bersamaan. Contohnya, ketika pengidap merasa sangat berenerjik, tetapi di saat bersamaan juga merasa sangat sedih dan putus asa. Gejala ini dinamakan dengan periode campuran (mixed state).

Pengidap gangguan bipolar fase mania bisa menunjukkan gejala, seperti:

  • Merasa sangat bersemangat, senang, atau mudah tersinggung atau sensitif.
  • Merasa sangat gelisah.
    Memiliki penurunan kebutuhan untuk tidur.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Berbicara dengan sangat cepat tentang banyak hal berbeda.
  • Merasa seperti pikirannya berpacu.
  • Berpikir bisa melakukan banyak hal sekaligus atau satu waktu.
  • Melakukan hal-hal berisiko yang menunjukkan penilaian yang buruk, seperti makan dan minum secara berlebihan, menghabiskan atau memberikan banyak uang, atau melakukan hubungan seks yang sembrono.
  • Merasa mereka sangat penting, berbakat, atau kuat.

Sementara itu, gejala gangguan bipolar fase depresi bisa berupa:

  • Merasa sangat sedih, hampa, khawatir, atau putus asa.
  • Merasa sangat gelisah.
    Kesulitan tidur, bangun terlalu pagi, atau terlalu banyak tidur.
  • Peningkatan nafsu makan dan penambahan berat badan.
  • Berbicara dengan sangat lambat, merasa tidak ada yang ingin mereka katakan, atau banyak lupa.
  • Kesulitan berkonsentrasi atau membuat keputusan.
  • Merasa tidak mampu melakukan bahkan hal-hal sederhana.
  • Memiliki sedikit minat pada hampir semua aktivitas, dorongan seks yang menurun atau tidak ada, atau ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan (anhedonia).
  • Merasa putus asa atau tidak berharga, dan munculnya pikirkan tentang kematian atau bunuh diri.

Faktor Risiko Gangguan Bipolar

Terdapat beberapa faktor yang diduga meningkatkan risiko seseorang terkena gangguan bipolar, yakni:

  1. Mengalami stres berat.
  2. Kejadian traumatik.
  3. Kecanduan akan minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang.
  4. Memiliki riwayat keluarga dekat (saudara kandung atau orangtua) yang mengidap gangguan bipolar.

Diagnosis Gangguan Bipolar

Diagnosis lebih lanjut mengenai kondisi ini sangat dibutuhkan, sebab gejala gangguan bipolar mirip dengan kondisi lain, seperti penyakit tiroid, serta dampak dari kecanduan alkohol atau penyalahgunaan NAPZA. Pemeriksaan yang dilakukan bisa dengan metode wawancara ke keluarga atau kerabat pengidap gangguan bipolar. Wawancara ini terkait gejala, seperti sejak kapan dan seberapa sering gejala muncul.

Kemudian, pengidapnya akan dirujuk ke psikiater atau dokter spesialis kesehatan jiwa. Psikiater akan melakukan beberapa pengamatan terkait pola bicara, berpikir, dan bersikap.

Psikiater juga mungkin menanyakan riwayat penyakit keluarga, riwayat penyakit, hingga pola tidur. Pengidapnya juga mungkin akan diberikan kuesioner yang dapat diisi. Saat hasil pemeriksaan dirasa cukup, psikiater kemudian akan mengklasifikasikan kondisi seseorang berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).

Pengobatan Gangguan Bipolar

Metode pengobatan yang dapat dilakukan berupa pemberian obat-obatan dan psikoterapi. Pengobatan gangguan bipolar ini bertujuan untuk mengurangi frekuensi munculnya gejala, membantu penderita kembali beraktivitas seperti biasanya, dan menurunkan risiko mengalami gangguan kesehatan lainnya.

Hingga saat ini, belum ada metode yang dapat mencegah gangguan bipolar. Namun, untuk mengurangi kambuhnya gejala, penderita dianjurkan untuk rutin mengonsumsi obat-obatan sesuai resep dokter, tetapi sangat dianjurkan bagi penderita Untuk mencari Obat Herbal karena dari Obat Herbal tidak Memiliki efek samping atau menjalani psikoterapi.