Myositis – Gejala, Penyebab dan Cara Mengobati

Penyakit Myositis

Penyakit myositis merupakan peradangan di otot penggerak tubuh. Myositis merusak serat-serat otot, sehingga otot menjadi lemah dan kemampuan melakukan kontraksinya menurun. Penyakit myositis bisa membuat tubuh penderita lemah, otot terasa sangat lunak dan timbul nyeri otot. Peradangan pada otot dapat menjadi serius, menyebabkan kecacatan serta penyusutan masa otot.
Pada umumnya myositis sering menyerang wanita dibandingkan pria. Rata-rata penderita myositis adalah wanita yang telah berusia 20 tahu ke atas. Penyakit jarang ditemukan menyerang anak-anak.

Jenis Myositis

Myositis terbagi ke dalam beberapa jenis. Umumnya, terdapat 5 jenis peradangan pada otot. Berikut penjelasannya:

1. Dermatomyositis
Dermatomyositis adalah jenis peradangan otot yang paling mudah dikenali karena gejalanya yang berupa ruam berbentuk seperti bunga dan berwarna merah keunguan.

Menurut The Myositis Association, jenis yang satu ini lebih rentan terjadi pada wanita daripada pria. Namun, kondisi ini bisa terjadi pada kelompok usia mana pun.

2. Polymyositis
Polymyositis biasanya terjadi pada otot yang berada terdekat dengan batang tubuh. Kondisi ini umumnya berkaitan dengan adanya masalah pada sistem imun tubuh penderitanya.

3. Inclusion-body myositis
Sedikit berbeda dengan jenis lainnya, peradangan otot tipe ini lebih banyak terjadi pada pasien berjenis kelamin pria daripada dengan wanita. Selain itu, tipe ini biasanya terjadi pada pasien berusia lebih dari 50 tahun.

Penyakit ini umumnya menyerang otot yang lebih kecil dan cenderung memengaruhi salah satu sisi tubuh saja. Meskipun belum dapat dikonfirmasi, radang otot jenis ini mungkin berhubungan dengan masalah genetik.

4. Juvenile myositis
Pada jenis ini, pasien berusia 18 tahun ke bawah lebih banyak mengalaminya. Selain itu, kemungkinan kejadiannya pada anak perempuan dua kali lebih besar daripada anak laki-laki.

5. Toxic myositis
Para ahli menduga radang otot jenis ini berhubungan dengan konsumsi obat-obatan tertentu, serta penggunaan obat terlarang seperti kokain.

Tanda-tanda dan gejala umum dari myositis adalah kelemahan otot. Kelemahan dapat terdeteksi dengan pengujian. Namun, tidak semua penderita penyakit ini sudah pasti mengalami kelemahan otot.

Gejala-gejala yang paling umum muncul pada kondisi peradangan otot meliputi:

  • Ruam.
  • Kelelahan.
  • Penebalan kulit tangan.
  • Kesulitan menelan.
  • Kesulitan bernapas.

Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai gejala-gejala yang muncul berdasarkan jenisnya:

1. Dermatomyositis
Pada jenis radang otot ini, penderita umumnya memiliki ruam pada kelopak mata, wajah, dada, leher, dan punggung. Selain itu, terdapat pula ruam pada buku-buku jari, siku, lutut, dan jari kaki.

Gejala-gejala lain dari dermatomyositis meliputi:

  • Kulit bersisik, kasar, dan mengelupas.
  • Benjolan pada buku-buku jari, suku, dan lutut, yang disertai dengan sisik.
  • Kesulitan bangun dari posisi duduk.
  • Kelelahan.
  • Lemah di bagian leher, pinggang, punggung, dan otot bahu.
  • Kesulitan menelan.
  • Suara menjadi serak.
  • Benjolan di dalam kulit, akibat pengerasan kalsium.
  • Nyeri otot (myalgia).
  • Radang sendi.
  • Kuku terlihat tidak normal.
  • Berat badan berkurang.
  • Detak jantung tak beraturan.
  • Tukak lambung.

2. Polymyositis
Penderita polymyositis umumnya merasakan gejala-gejala berikut:

  • Lemah otot (atrofi otot).
  • Nyeri otot.
  • Kesulitan menelan.
  • Sering terjatuh.
  • Susah bangkit dari posisi duduk.
  • Batuk kering kronis.
  • Penebalan kulit pada tangan.
  • Demam.
  • Kesulitan bernapas.
  • Berat badan menurun.
  • Suara serak.

3. Inclusion-body myositis
Jika Anda menderita radang otot jenis ini, Anda mungkin akan merasakan:

  • Kesulitan berjalan.
  • Kehilangan keseimbangan.
  • Sering terjatuh.
  • Susah bangun dari posisi duduk.
  • Tangan sulit menggenggam.
  • Nyeri dan lemah otot.
  • Refleks otot berkurang.

4. Juvenile
Gejala dari kondisi ini tidak jauh berbeda dengan jenis peradangan otot lainnya, seperti:

  • Ruam pada kelopak mata atau persendian.
  • Kelelahan.
  • Rewel dan mudah marah.
  • Sakit perut.
  • Kesulitan dalam bergerak sehari-hari.
  • Kesulitan menengadah atau mengangkat kepala.
  • Bengkak dan kemerahan pada kulit sekitar kuku tangan.
  • Sulit menelan.
  • Nyeri dan lemah otot.
  • Demam.

Orang dengan penyakit ini biasanya mengalami gejala dari infeksi virus, seperti hidung beringus, demam, batuk, radang tenggorokan atau mual dan diare. Namun gejala dari infeksi virus dapat hilang beberapa hari atau beberapa minggu sebelum gejala myositis muncul.

Penyakit ini umumnya terjadi karena kondisi apa pun yang menyebabkan peradangan pada otot. Anda bisa menggolongkan penyebab dari penyakit ini ke dalam kategori berikut:

1. Kondisi peradangan
Kondisi yang menyebabkan peradangan pada tubuh dapat mempengaruhi otot. Banyak dari penyebab ini merupakan gangguan autoimun, yaitu saat tubuh menyerang jaringannya sendiri.
Kondisi peradangan yang berpotensi menyebabkan masalah serius pada otot meliputi:

  • Dermatomyositis
  • Polymyositis
  • Inclusion body myositis

Kondisi peradangan lain cenderung menyebabkan jenis radang otot yang lebih ringan, seperti:

  • Lupus
  • Scleroderma
  • Rheumatoid arthritis

Kondisi peradangan sering kali merupakan penyebab yang paling serius, serta memerlukan perawatan jangka panjang.

2. Infeksi
Infeksi virus adalah infeksi paling umum yang menyebabkan penyakit ini. Meskipun jarang terjadi, bakteri, jamur dan organisme lain juga dapat menyebabkan radang otot.

Virus atau bakteri dapat langsung menginvasi jaringan otot, atau menghasilkan zat yang merusak jaringan otot. Virus demam dan flu, serta HIV, adalah beberapa virus yang dapat menyebabkan kondisi ini terjadi.

3. Obat-obatan
Banyak obat-obatan yang dapat menyebabkan kerusakan otot sementara. Karena peradangan pada otot sering kali tidak teridentifikasi, masalah otot dapat juga diidentifikasi sebagai myopathy. Obat-obatan yang dapat menyebabkan peradangan otot atau myopathy meliputi:

  • Statin
  • Colchicine
  • Omeprazole (Prilosec)
  • Adalimumab (Humira)
  • Plaquenil (hydroxychloroquine)
  • Alpha-interferon
  • Toluene
  • Kokain
  • Alkohol

Myopathy dapat terjadi setelah memulai pengobatan, atau setelah beberapa bulan atau tahun setelah pengobatan. Kadang kondisi tersebut terjadi karena interaksi dua obat berbeda.

4. Cedera
Olahraga berat dapat menyebabkan nyeri, pembengkakan atau kelemahan otot selama beberapa jam atau hari setelah olahraga. Gejala radang otot setelah olahraga atau cedera hampir selalu pulih dengan sempurna setelah istirahat dan masa pemulihan yang cukup.

5. Rhabdomyolysis
Rhabdomyolysis muncul saat otot rusak. Nyeri, kelemahan, dan pembengkakan otot adalah gejala dari rhabdomyolysis. Pada saat itu, urine juga dapat berubah warna menjadi cokelat gelap atau merah.

Faktor Risiko Myositis

Ada banyak faktor risiko untuk penyakit ini, yaitu:

  1. Pertambahan usia
    Meskipun penyakit ini dapat terjadi pada pasien dari kelompok usia berapa saja, angka kejadiannya paling banyak terjadi pada orang dewasa berusia 45-60 tahun.
  2. Jenis kelamin tertentu
    Kecuali pada jenis inclusion body, penyakit ini lebih banyak terjadi pada pasien berjenis kelamin wanita daripada pria. Oleh sebab itu, wanita memiliki peluang lebih besar daripada pria untuk terkena penyakit ini.
  3. Kelainan genetik
    Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa polymyositis dan dermatomyositis memiliki kaitan dengan masalah genetik, yaitu kelainan pada gen HLADRB1* 0301 dan DQA1*0501.
    Kondisi ini bisa jadi merupakan bawaan lahir, atau terjadi mutasi gen pada satu waktu dalam hidup si penderita.
  4. Faktor lingkungan
    Sering terpapar sinar UV dari matahari juga meningkatkan risiko Anda untuk menderita polymyositis dan dermatomyositis.
  5. Penderita penyakit autoimun
    Apabila Anda menderita penyakit yang mengganggu sistem imun tubuh Anda, seperti arthritis atau lupus, Anda memiliki risiko yang cukup tinggi untuk terkena penyakit ini.

Diagnosis Myositis

Pihak medis dapat menduga adanya penyakit ini berdasarkan gejala-gejala utama dari penyakit tersebut. Tes untuk mendiagnosis penyakit ini meliputi:

  1. Tes darah
    Kadar tinggi dari enzim otot, seperti kreatin kinasi, dapat menjadi tanda terjadinya peradangan otot. Tes darah lainnya melihat antibodi abnormal yang dapat mengidentifikasi kondisi autoimun.
  2. Scan MRI
    Scanner yang menggunakan magnet berkekuatan tinggi dan komputer yang menghasilkan gambar dari otot. Scan MRI dapat membantu mengidentifikasi area otot yang terdampak dan perubahan pada otot sepanjang waktu.
  3. EMG
    Dengan memasukkan jarum elektroda pada otot, dokter dapat menguji respons otot terhadap sinyal saraf elektrik. EMG dapat mengidentifikasi otot yang lemah atau rusak akibat peradangan.
  4. Biopsi otot
    Hal ini merupakan tes yang paling akurat untuk mendiagnosis penyakit ini. Dokter mengidentifikasi otot yang lemah, membuat sayatan kecil dan mengambil sampel kecil dari jaringan otot untuk diuji.

Penanganan Myositis

Hingga saat ini, belum ada cara mengobati myositis secara khusus. Tujuan pengobatan adalah mengurangi gejala agar kualitas hidup penderita bisa membaik.Untuk mengurangi gejala, beberapa penanganan berikut bisa disarankan oleh pihak medis:

  • Obat kortikosteroid seperti prednisone.
  • Obat untuk menekan sistem imun atau imunosupresan, seperti azathioprine dan methotrexate.
  • Obat antibiotik untuk mencegah penyebaran infeksi.
  • Fisioterapi, olahraga, senam, dan yoga guna mempertahankan kekuatan otot serta mencegah atrofi otot. Diskusikan dengan pihak medis mengenai latihan fisik yang cocok untuk myositis Anda.
  • Menggunakan tabir surya, gunakan pakaian lengan, dan menghindari paparan sinar matahari langsung.