Rhinitis Vasomotor – Gejala, Penyebab dan Cara Mengobati

Penyakit Rhinitis Vasomotor

Rhinitis Vasomotor dikenal juga dengan rhinitis non alergi. Kondisi gangguan peradangan ini biasanya ditandai dengan gangguan pada saluran hidung yang ternyata bukan disebabkan karena alergi. Pengobatan terhadap gangguan ini bisa dilakukan melalui terapi terlebih dulu.
Pada kondisi normal, pembuluh darah yang berada di lapisan hidung akan menyempit untuk jalan masuk udara. Sirkulasi udara pada pernapasan hidung bisa berjalan lancar dan semestinya. Namun, pada kondisi rhinitis vasomotor pembuluh darah mengalami peradangan dan melebar sehingga menyebabkan susah untuk bernapas.
Kondisi rhinitis vasomotor umumnya ditandai dengan penumpukkan lendir atau cairan dalam hidung. Gangguan ini dibagi menjadi dua jenis yakni, rhinitis karena alergi dan bukan alergi.

Gejala Rhinitis Vasomotor

Pada umumnya, gejala yang ditunjukkan pada rhinitis vasomotor adalah keluarnya cairan dalam hidung berupa lendir. Bahkan terkadang penderita menduga hal tersebut merupakan infeksi flu biasa. Hidung tersumbat menjadi tanda awal rhinitis non alergi ini dan menjadikan penderita sulit bernapas secara normal.

Beberapa gejala lain yang bisa diamati sebagai tanda awal rhinitis vasomotor antara lain:

  • Hidung meler terus-menerus
  • Bersin dan berair
  • Hidung tersumbat
  • Rasa tidak nyaman saat bernapas dan mencium sesuatu.

Hanya saja gejala rhinitis vasomotor sedikit berbeda dengan rhinitis karena alergi. Jika peradangan disebabkan karena alergi, maka penderita akan mengalami hidung gatal, mata berair, dan kondisi lain seperti demam dan berkurang fungsi indera penciuman.

Penyebab Rhinitis Vasomotor

Rhinitis vasomotor terjadi akibat pelebaran pembuluh darah di dalam hidung. Hal ini menyebabkan pembengkakan, hidung tersumbat, dan hidung dipenuhi dengan lendir. Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti mengapa pelebaran pembuluh darah ini dapat terjadi.

Namun, diduga terdapat beberapa pemicu dari kondisi ini, seperti:

  • Infeksi virus yang terkait dengan flu
  • Konsumsi makanan atau minuman panas dan pedas
  • Konsumsi minuman beralkohol
  • Paparan bahan iritan dari lingkungan, seperti parfum, asap, atau perokok pasif
  • Pengguna obat-obatan tertentu, seperti aspirin, ibuprofen, antihipertensi, beta blockers, atau antidepresan
  • Pengidap penyakit tertentu, seperti hipotiroidisme
  • Perubahan cuaca atau musim yang kering
  • Perubahan hormon akibat kehamilan, menstruasi, atau kontrasepsi oral.

Faktor Risiko Rhinitis Vasomotor

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya rhinitis vasomotor, antara lain:

  • Berusia di atas 20 tahun
  • Jenis kelamin wanita, sebab kondisi ini kerap dipengaruhi oleh perubahan hormon
  • Paparan terhadap bahan penyebab iritasi, seperti asap rokok, asap knalpot, atau kabut
  • Pengguna nasal drop dekongestan atau spray selama lebih dari beberapa hari
  • Pengidap kondisi medis lain seperti hipotiroidisme atau sindrom kelelahan kronis
  • Stres emosional atau stres fisik
  • Konsumsi minuman beralkohol
  • Mengidap asma
  • Udara kering
  • Cedera pada hidung
  • Makanan pedas.

Diagnosis Rhinitis Vasomotor

Untuk mendiagnosis rhinitis vasomotor, pihak medis akan melakukan wawancara medis lengkap, pemeriksaan fisik di daerah hidung, serta pemeriksaan penunjang, untuk mengetahui apakah rhinitis disebabkan oleh alergi atau akibat hal lain.

Jika tidak ditemukan tanda yang mengarah pada rhinitis alergi, maka pihak medis dapat menegakkan diagnosis rhinitis vasomotor. Pihak medis umumnya akan meminta untuk dilakukan tes alergi (tes tusuk kulit dan tes darah) untuk mengidentifikasi alergi yang dimiliki pengidap, serta endoskopi hidung untuk melihat gambaran mukosa hidung.

Pada sebagian kasus, pihak medis juga akan melakukan pemeriksaan pencitraan seperti CT scan pada daerah sinus untuk melihat kemungkinan yang mengarah pada sinusitis atau polyposis.

Pengobatan Rhinitis Vasomotor

Pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi rhinitis vasomotor biasanya berfokus untuk meredakan gejala. Berikut ini beberapa pilihannya:

  • Semprotan hidung yang dijual bebas
  • Dekongestan seperti pseudoefedrin atau fenilefrin
  • Semprotan hidung kortikosteroid seperti fluticasone

Jika gejala yang dialami parah atau jika memiliki efek samping dari obat bebas ini, pihak medis mungkin akan meresepkan obat lain untuk membantu mengendalikan gejala. Nah, ada beberapa jenis obat yang biasanya diresepkan oleh medis untuk mengobati rinitis vasomotor meliputi:

  • Semprotan hidung
  • kortikosteroid seperti mometasone
  • Semprotan hidung antihistamin seperti azelastine atau olopatadine hidroklorida
  • Semprotan hidung antikolinergik anti-tetes seperti ipratropium.

Dalam kasus yang jarang terjadi, pihak medis dapat merekomendasikan operasi untuk mengobati gejala. Pembedahan atau operasi juga dapat dilakukan jika memiliki masalah kesehatan mendasar yang mengintensifkan gejala. Misalnya,polip hidung atau septum yang menyimpang.

Komplikasi Rhinitis Vasomotor

Meskipun komplikasi rinitis vasomotor jarang terjadi, kondisi ini mungkin mengarah ke kondisi lain pada sistem pernapasan. Komplikasi rinitis vasomotor yang tidak diobati bisa serius.

Komplikasi rhinitis vasomotor meliputi:

  • Iritasi saluran napas
  • Sinusitis ( radang atau infeksi pada sinus)

Pencegahan Rhinitis Vasomotor

Upaya untuk mencegah rhinitis vasomotor adalah dengan menghindari pemicunya. Beberapa upaya yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Hindari terlalu sering menggunakan obat dekongestan hidung, karena dapat menyebabkan perburukan gejala
  • Hindari menggunakan obat-obatan bebas secara sembarangan, jika tidak sesuai dengan indikasi
  • Menghindari polusi udara
  • Menghindari pemicu seperti makanan pedas
  • Terlibat dalam aktivitas fisik secara teratur untuk membuka saluran udara.