Penyakit Paru Interstisial - Gejala, Penyebab dan Cara Mengobati

Penyakit Paru Interstisial

Penyakit paru interstisial merupakan tanda-tanda terjadinya fibrosis (pembentukan jaringan parut) pada jaringan organ paru-paru di sekitar area alveoli, jaringan inilah yang disebut dengan jaringan interstisial. Kondisi fibrosis ini terjadi secara progresif. Fibrosis paru ini dapat menurunkan elastisitas organ paru-paru yang berakibat menurunnya fungsi pernapasan hingga menjadikan berkurangnya pasokan oksigen di dalam darah.

Gejala Paru Interstisial

Jaringan organ paru-paru yang telah mengalami fibrosis tak dapat pulih seperti sedia kala. Gejala umum penyakit paru interstisial antara lain : batuk kering, napas pendek saat beristirahat maupun saat aktivitas fisik. Apabila penyakit ini sudah berlangsung lama, maka dapat muncul gejala-gejala lainnya yang terkait dengan menurunnya kadar oksigen di dalam darah, beberapa diantaranya :

  1. Berubahnya tampilan ujung jari (clubbing finger)
  2. Pembesaran pada volume jantung
  3. Infeksi
  4. Demam
  5. Kelelahan.

Pada penderita stadium lanjut biasanya terlihat gejala kebiruan di sekitar bibir, kuku dan kulit akibat dari kekurangan oksigen.

Penyebab Paru Interstisial

Sedangkan penyebab penyakit paru interstisial umumnya akibat terjadi gangguan autoimun, radiasi, efek samping obat-obatan, maupun paparan senyawa yang berbahaya. Penebalan jaringan sebenarnya dapat diakibatkan luka pada organ paru-paru, peradangan, maupun penimbunan cairan paru-paru.

Beberapa hal atau kondisi yang dapat mengakibatkan cedera di paru-paru sehingga memicu repons yang salah dari tubuh adalah:

1. Penyakit autoimun
Berbagai penyakit autoimun dapat memicu munculnya penyakit paru interstisial, di antaranya:

  • Dermatomiositis dan polimiositis
  • Vaskulitis
  • Rheumatoid arthritis
  • Sarkoidosis
  • Skleroderma
  • Sindrom Sjogren
  • Lupus

2. Efek samping obat
Beberapa jenis obat yang dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan memicu munculnya penyakit paru interstisial adalah:

  • Obat kemoterapi dan imunomodulator, seperti methotrexate dan cyclophosphamide
  • Obat penyakit jantung, seperti amiodarone dan propanolol
  • Obat antibiotik, seperti nitrofurantoin dan ethambutol
  • Obat imunosupresan, seperti rituximab atau sulfasalazine

3. Paparan material berbahaya
Pekerja di pertambangan, pertanian, atau konstruksi sering kali terpapar bahan kimia yang berbahaya bagi paru-paru, sehingga berisiko tinggi mengalami penyakit paru interstisial. Contoh material berbahaya tersebut adalah serat asbestos, debu batu bara, dedak, spora jamur dan kapang, debu silika, dan kotoran burung.

Selain faktor pemicu yang telah disebutkan di atas, ada juga faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit paru interstisial, antara lain:

  • Berusia dewasa
  • Memiliki keluarga yang pernah menderita penyakit paru interstisial
  • Pernah menjalani radioterapi atau kemoterapi
  • Memiliki kebiasaan merokok
  • Menderita penyakit refluks asam lambung (GERD)

Meski begitu, ada beberapa jenis penyakit paru interstisial yang belum diketahui penyebabnya hingga saat ini. Ada beragam jenis penyakit paru intersitsial. Beberapa contohnya adalah:

  • Pneumonia interstisial
  • Fibrosis paru idiopatik
  • Pneumonitis interstisial nonspesifik
  • Pneumonitis hipersensitivitas
  • Cryptogenic organizing pneumonia (COP)
  • Pneumonia interstisial deskuamatif
  • Sarkoidosis
  • Asbestosis

Diagnosis Paru Interstisial

Gejala penyakit paru interstisial sangat umum dijumpai di berbagai penyakit pernapasan lainnya. Gejala penyakit paru interstisial yang tidak spesifik menyebabkan proses diagnosis penyakit ini menjadi cukup sulit.

Karena alasan tersebut, pihak medis akan memeriksa kemungkinan adanya faktor yang dapat memicu penyakit paru interstisial. Melalui tanya-jawab, pihak medis akan menelusuri gejala, riwayat kesehatan, serta pekerjaan dan kebiasaan pasien.

Setelah itu, pihak medis akan melakukan pemeriksaan fisik dengan stetoskop, untuk mendengarkan suara pernapasan. Selain menelusuri gejala dan memeriksa kondisi fisik pasien, pihak medis juga perlu melakukan berbagai pemeriksaan penunjang untuk menentukan diagnosis penyakit ini. Pemeriksaan tersebut berupa:

  • Pemindaian
    Metode pemindaian paru-paru yang digunakan untuk mendeteksi adanya penyakit paru interstisial adalah foto Rontgen dada dan CT scan.
  • Tes fungsi paru
    Tes ini dilakukan untuk mengukur kinerja paru-paru dengan pemeriksaan khusus yang dinamakan spirometri.
  • Biopsi jaringan paru-paru
    Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat sampel jaringan paru-paru secara lebih detail melalui pengamatan di bawah mikroskop. Sampel jaringan paru-paru bisa diambil melalui prosedur bronkoskopi, yaitu menggunakan alat seperti selang kecil berkamera yang masuk melalui mulut atau hidung.

Penanganan Paru Interstisial

Pengobatan yang diberikan bertujuan untuk meringankan gejala, memperlambat perkembangan penyakit, dan menjaga kualitas hidup pasien. Salah satunya adalah dengan pemberian obat-obatan di bawah ini:

  • Kontikosteroid
    Obat kortikosteroid digunakan untuk menghambat aktivitas sistem imun, sehingga respons tubuh yang menimbulkan peradangan dan kerusakan organ paru dapat ditekan.
  • Obat antifibrosis
    Obat antifobrosis diberikan untuk penderita fibrosis paru idiopatik. Contoh obat golongan ini adalah pirfenidone atau nintedanib.
  • Antibiotik dan antijamur
    Antibiotik diberikan kepada penderita pneumonia interstisial yang disebabkan oleh infeksi bakteri, sedangkan antijamur diberikan untuk penderita pneumonia interstisial yang disebabkan oleh infeksi jamur.
  • Obat penurun produksi asam lambung
    Gejala asam lambung naik dapat memperburuk gejala penyakit paru interstisial. Untuk menurunkan produksi asam lambung, dokter dapat memberikan obat maag golongan penghambat pompa proton atau antagonis H2.

Selain pemberian obat, ada metode lain yang juga dapat digunakan dalam penanganan penyakit paru interstisial, yaitu:

  • Penggunaan oksigen tambahan
    Oksigen tambahan dari tabung oksigen bertujuan untuk menambah pasokan oksigen yang kurang ke tubuh penderita penyakit paru interstisial.
  • Program rehabilitasi paru
    Program rehabilitasi paru bertujuan untuk membuat paru-paru lebih efektif dalam bekerja. Program ini meliputi latihan fisik dan latihan teknik pernapasan, serta dukungan emosional dan bimbingan nutrisi.
  • Transplantasi paru
    Transplantasi paru merupakan langkah pengobatan terakhir bagi penderita penyakit paru interstisial. Metode ini dilakukan jika berbagai metode penanganan lain sudah tidak dapat meringankan gejala dan tidak dapat memperbaiki kualitas hidup penderita.

Perlu diketahui, tidak semua kerusakan jaringan paru pada penyakit paru interstisial dapat disembuhkan. Pengobatan yang diberikan juga tidak selalu berhasil. Kesembuhan ditentukan oleh jenis dan keparahan penyakit, serta kondisi penderita.

Komplikasi Paru Interstisial

Penyakit paru interstisial dapat menyebabkan komplikasi pada penderitanya. Beberapa komplikasi akibat penyakit ini adalah:

  • Hipertensi pulmonal
  • Emboli paru
  • Kanker paru-paru
  • Penyakit jantung koroner
  • Gagal jantung
  • Gagal napas.

Pencegahan Paru Interstisial

Tidak semua jenis penyakit paru interstisial dapat dicegah, misalnya jenis yang belum diketahui penyebabnya. Langkah pencegahan yang dapat dilakukan sesuai dengan faktor pemicu dan faktor risikonya, antara lain:

  • Menggunakan alat pelindung diri di tempat kerja untuk menghindari paparan partikel berbahaya di tempat kerja
  • Berhenti merokok, untuk menjaga dan melindungi paru-paru dari jenis penyakit apa pun, termasuk penyakit paru interstisial
  • Melakukan vaksinasi, seperti vaksin flu dan pneumonia, untuk melindungi paru-paru dari infeksi yang bisa memicu munculnya penyakit paru interstisial.