OCD (Obsessive Compulsive Disorder) – Gejala, Penyebab dan Cara Mengobati

Obsessive Compulsive Disorder

Obsessive Compulsive Disorder atau OCD merupakan bentuk gangguan mental yang terjadi pada seseorang ketika melakukan sesuatu berulang kali. Ketakutan seseorang akan sesuatu hal membuatnya bertindak secara berulang-ulang dan harus mendapat perhatian lebih lanjut. Jika dibiarkan, OCD bisa membuat penderitanya merasakan kecemasan berlebihan.
OCD disebut sebagai gangguan kompulsif yang bisa terjadi pada siapapun. Terutama kondisi psikis ini dialami oleh anak-anak hingga remaja. Tanda utama seseorang mengalami OCD adalah munculnya ketakutan berlebihan yang membuat penderita harus melakukan hal untuk menghindari kegelisahannya itu.
Obsessive Compulsive Disorder ternyata juga disadari secara langsung oleh penderitanya. Namun, perasaan tidak bisa menghindari ketakutan justru membuat sang penderita ini tetap melakukan hal untuk mengamankan kondisinya secara psikis. Seperti apa gejala dan penanganannya? Simak!

Gejala Seseorang Mengalami OCD

Orang dengan OCD memiliki gejala obsesi, kompulsi, atau keduanya. Gejala-gejala ini dapat mengganggu semua aspek kehidupan, seperti pekerjaan, sekolah, dan hubungan pribadi. Obsesi adalah pikiran yang berulang, dorongan, atau gambaran mental yang menyebabkan kecemasan.

Sementara itu, kompulsi adalah perilaku berulang seseorang dengan OCD merasakan dorongan untuk melakukan dalam menanggapi pemikiran obsesif. Kompulsi umum termasuk pembersihan berlebihan dan/atau mencuci tangan, memesan, dan mengatur sesuatu dengan cara yang khusus dan tepat. Pengidap juga bisa berulang kali memeriksa berbagai macam hal, seperti pemeriksaan berulang kali untuk melihat apakah pintu terkunci atau oven mati.

Gejala bisa datang dan pergi, mereda seiring waktu, atau memburuk. Orang dengan OCD dapat mencegah gejala muncul dengan menghindari situasi yang bisa memicu obsesi mereka, atau mungkin menggunakan alkohol atau obat-obatan untuk menenangkan diri. Meskipun sebagian besar orang dewasa dengan OCD menyadari apa yang mereka lakukan tidak masuk akal, tetapi beberapa orang dewasa dan sebagian besar anak mungkin tidak menyadari bahwa perilaku mereka di luar kebiasaan. Orangtua atau guru biasanya mengenali gejala OCD pada anak-anak.

Penyebab OCD

Ternyata sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya Obsessive Compulsive Disorder pada seseorang. Akan tetapi, sejumlah faktor ditengarai menjadi penentu seseorang mengalami gangguan mental tersebut. Inilah faktor risiko yang bisa menyebabkan OCD paling umum terjadi:

  • Memiliki memori atau pernah mengalami trauma atas peristiwa tidak menyenangkan
  • Berasal dari keturunan penderita OCD berlebihan
  • Memiliki gangguan mental

Jika beberapa gejala disertai faktor risiko ditemukan pada seseorang yang terindikasi menderita OCD, sebaiknya segera melakukan terapi psikis. Kondisi ini bisa diatasi karena bukan sebuah penyakit yang berbahaya. Hanya saja, perlu ditangani untuk memperbaiki kualitas hidup seseorang tersebut.

Diagnosis OCD

Langkah-langkah untuk membantu mendiagnosis OCD termasuk dalam pemeriksaan fisik. Hal ini dapat dilakukan untuk membantu menyingkirkan masalah lain yang dapat menyebabkan gejala dan untuk memeriksa komplikasi terkait. Selanjutnya, dilakukan tes laboratorium diantaranya:

  • Hitung Darah Lengkap (CBC)
  • Pemeriksaan Fungsi Tiroid
  • Skrining untuk Alkohol dan Obat-obatan.
  • Evaluasi psikologis, termasuk membahas pikiran, perasaan, gejala, dan pola perilaku. Kriteria diagnostik untuk OCD ada pada Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5), yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association.

Penanganan OCD

Sayangnya, OCD tidak bisa disembuhkan. Namun, pengidap bisa meredakan gejala yang mengganggu aktivitas mereka dengan menjalani beberapa perawatan. Pengobatan OCD terdiri dari obat-obatan, psikoterapi, atau kombinasi keduanya. Meskipun sebagian besar pengidap OCD membaik setelah mendapatkan pengobatan, tetapi beberapa pengidap lainnya terus mengalami gejala.

Kadang-kadang orang dengan OCD juga ditemukan memiliki gangguan mental lainnya, seperti kecemasan, depresi, dan gangguan dismorfik tubuh (gangguan saat seseorang memiliki anggapan keliru bahwa bagian dari tubuh mereka tidak normal). Penting untuk mempertimbangkan gangguan lain ini ketika menentukan pilihan perawatan.

SRI dan SSRIs adalah dua jenis obat yang digunakan untuk membantu mengurangi gejala OCD. Selain itu, beberapa obat lain yang juga terbukti efektif mengatasi OCD pada orang dewasa dan anak-anak adalah obat antidepresan trisiklik, yang merupakan anggota dari kelas yang lebih tua dari “tricyclic” antidepresan, dan beberapa obat SSRI yang lebih baru. Jika gejala tidak membaik dengan jenis obat ini, penelitian menunjukkan beberapa pasien dapat merespons dengan baik terhadap obat antipsikotik.

Selain obat-obatan, psikoterapi juga efektif untuk mengatasi OCD pada orang dewasa dan anak-anak. Penelitian menunjukkan bahwa jenis psikoterapi tertentu, termasuk terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi terkait lainnya (misalnya, pelatihan pembalikan kebiasaan) dapat sama efektifnya dengan obat bagi banyak individu. Penelitian juga menunjukkan bahwa tipe CBT yang disebut Exposure and Response Prevention (EX/RP) efektif dalam mengurangi perilaku kompulsif dalam OCD, bahkan pada orang yang tidak merespons dengan baik terhadap obat SRI. Bagi banyak pengidap, EX/RP adalah pilihan pengobatan tambahan ketika obat SRI atau SSRI tidak efektif mengatasi gejala OCD.