Miom - Gejala, Penyebab dan Cara Mengobati

Penyakit Miom

Penyakit miom memiliki nama lain uterine fibroid atau leiomioma atau leiomiomata atau fibromioma. Miom berupa benjolan (tumor jinak) yang tumbuh pada organ rahim. Miom bisa tumbuh pada dinding rahim di bagian luar maupun dalam. Ukuran miom pada penderitanya bisa berbeda-beda.
Namun pada umumnya ukuran miom berkisar 1 mm sampai 20 cm. Miom dapat muncul berupa satu benjolan miom maupun sekelompok miom berukuran kecil. Terdapat 4 jenis miom, antara lain :

  • Subserosa : Jenis ini tumbuh dalam rahim lalu bisa menyebar pada bagian luar organ serviks
  • Intramural : Jenis ini umumnya hanya tumbuh dalam rahim dan memungkinkan ukuran rahim membesar
  • Submukosa : Jenis ini berkembang dalam lapisan organ rahim hingga dapat mengganggu siklus menstruasi, bahkan mengakibatkan keguguran dan kemandulan
  • Pedunculated : Jenis ini terhubung ke bagian dan luar rahim melalui suatu tangkai kecil

Gejala Miom

Penyakit miom pada umumnya tidak menampakan gejala. Kebanyakan penderitanya merasa bahwa dirinya baik-baik saja. Namun pada kondisi miom yang berukuran besar kemunculan gejala dapat dirasakan penderitanya, seperti :

  • Jumlah darah saat menstruasi banyak melebihi normal
  • Masa menstuasi berlangsung lama, melebihi seminggu
  • Rasa nyeri berlebihan di area perut bawah
  • Sering kali Buang Air Kecil
  • Nyeri saat Berhubungan seksual
  • Nyeri pinggang dan tungkai

Pada kasus yang jarang terjadi, miom bisa mengganggu kesuburan atau menyebabkan keguguran. Miom yang terjadi saat hamil juga berisiko menyebabkan komplikasi kehamilan.

Penyebab Miom

Hingga saat ini penyebab terjadinya miom belum diketahui dengan pasti, namun ada beberapa faktor yang diduga terkait dengan munculnya miom. Faktor-faktor tersebut adalah:

  • Hormon
    Hormon estrogen, yang dihasilkan indung telur (ovarium) dapat menyebabkan penebalan dinding rahim dalam siklus menstruasi. Penebalan tersebut dapat berkembang menjadi miom.
  • Kehamilan
    Kehamilan dapat menyebabkan peningkatan hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh wanita, sehingga memicu terbentuknya miom.
  • Riwayat penyakit dalam keluarga
    Orang yang anggota keluarganya pernah menderita miom memiliki risiko lebih besar untuk mengalami miom juga.

Ada beberapa faktor lain yang membuat seorang wanita lebih berisiko terkena miom, yaitu berusia 30-50 tahun, memiliki berat badan berlebih, kekurangan vitamin D, memiliki kebiasaan minum alkohol, sering mengonsumsi daging merah, dan kurang mengonsumsi serat.

Selain faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko munculnya miom, terdapat juga faktor yang dapat menurunkan risiko terjadinya penyakit ini, yaitu riwayat melahirkan. Wanita yang pernah melahirkan memiliki risiko yang lebih rendah untuk menderita miom, dibanding wanita yang belum pernah melahirkan.

Diagnosis Miom

Seperti telah disebutkan sebelumnya, seorang wanita bisa tidak mengetahui bahwa dirinya terkena miom, karena sering kali miom tidak menimbulkan keluhan. Miom umumnya baru diketahui saat pemeriksaan rutin oleh dokter kandungan.

Namun bila pasien mengalami keluhan yang mengarah pada miom, pihak medis akan menanyakan dengan detail mengenai gejala yang dirasakan serta penyakit yang pernah diderita pasien. Pihak medis juga akan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan dalam.
Kemudian untuk memastikannya, pihak medis akan melakukan pemeriksaan lanjutan, seperti:

  1. Ultrasonografi (USG)
    Ada dua jenis USG yang digunakan untuk mendeteksi miom, yaitu USG perut atau USG transvaginal.
  2. Magnetic resonance imaging (MRI)
    Hasil pencitraan ini bisa memperlihatkan ukuran dan lokasi miom dengan jelas.
  3. Histeroskopi
    Histeroskopi dilakukan untuk mencari miom yang menonjol ke rongga rahim dengan menggunakan selang kecil berkamera (histeroskop) yang dimasukkan ke rahim melalui vagina.
  4. Laparoskopi
    Pada laparoskopi, alat seperti histeroskop akan dimasukkan melalui sayatan kecil di perut untuk melihat bagian dalam perut atau panggul. Prosedur ini dilakukan untuk mencari miom yang menonjol ke luar rahim.
  5. Biopsi
    Sampel jaringan tumor akan diambil ketika melakukan prosedur histeroskopi atau laparoskopi untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium. Melalui pemeriksaan ini, dapat diketahui apakah tumor tersebut bersifat jinak atau ganas.

Penanganan Miom

Pada kasus miom yang kecil dan tidak menimbulkan gejala, tidak diperlukan pengobatan. Miom tumbuh dengan lambat dan biasanya akan menyusut saat menopause. Walaupun tidak perlu ditangani, Anda perlu melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan untuk memantau perkembangan miom.

Terapi Hormon
Pada miom yang menimbulkan keluhan, terdapat beberapa jenis terapi hormon yang bisa digunakan untuk meredakan gejala yang muncul, yaitu:

  • Pil KB
    Pil KB dapat mengurangi perdarahan dan rasa sakit saat menstruasi.
  • Hormon progesteron
    Hormon progesteron tambahan dapat menghambat pertumbuhan dinding rahim dan mengurangi perdarahan saat menstruasi. Hormon progesteron tersedia dalam bentuk pil atau suntik.
  • Gonadotropin releasing hormone (GnRH)
    Hormon ini akan membuat tubuh mengurangi produksi hormon estrogen, yang akhirnya dapat mengecilkan miom.
  • KB spiral levonorgestrel
    Levonorgestrel intrauterine system (LNG-IUS) adalah KB spiral yang mengandung hormon, atau disebut juga KB spiral levonorgestrel. KB spiral ini akan diletakkan di dalam rahim untuk memperlambat pertumbuhan dinding rahim dan mengurangi pendarahan.

Selain terapi hormon, obat tambahan berupa asam traneksamat dan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), juga dapat diberikan dokter untuk menghentikan atau mengurangi pendarahan serta nyeri yang ditimbulkan oleh miom.

Tindakan Khusus
Jika gejala yang muncul akibat miom cukup parah dan pengobatan yang dilakukan tidak berhasil, penderita akan disarankan menjalani operasi. Berikut ini adalah beberapa operasi yang dilakukan untuk mengatasi miom:

  1. Pengangkatan miom
    Operasi pengangkatan miom dilakukan dengan melakukan penyayatan di perut (miomektomi). Miom juga dapat diangkat tanpa penyayatan, yaitu melalui alat khusus berukuran kecil menyerupai selang dan berkamera (histeroskopi). Karena rahim tidak ikut diangkat, pasien masih dapat memiliki keturunan setelah operasi.
  2. Pengangkatan rahim
    Prosedur operasi ini dilakukan untuk mengangkat seluruh rahim. Pengangkatan rahim (histerektomi) dilakukan jika ukuran miom cukup besar, terjadi pendarahan yang banyak, dan penderita tidak ingin memiliki anak lagi.
  3. Embolisasi arteri rahim
    Pada prosedur ini, pembuluh darah yang menyuplai jaringan miom akan disumbat, sehingga ukuran miom akan mengecil. Embolisasi arteri rahim disarankan pada wanita yang memiliki miom berukuran besar dan dilakukan oleh dokter radiologi yang terlatih untuk tindakan ini.
  4. Ablasi endometrium
    Dalam prosedur ini, miom pada dinding rahim akan diangkat menggunakan energi khusus, misalnya sinar laser atau gelombang mikro. Ablasi endometrium dilakukan untuk mengurangi perdarahan haid yang berlebih akibat miom.

Meski telah diobati, baik dengan terapi hormon maupun tindakan khusus, miom berpotensi untuk tumbuh kembali di kemudian hari, kecuali bila telah dilakukan operasi pengangkatan rahim.

Komplikasi Miom

Meskipun jarang, ada beberapa komplikasi yang dapat disebabkan oleh miom, yaitu:

  • Anemia
    Perdarahan berlebih yang diakibatkan oleh miom bisa menyebabkan seorang wanita menjadi kurang darah atau anemia.
  • Mandul
    Miom berukuran besar berpotensi menghalangi sel telur yang telah dibuahi untuk menempel pada dinding rahim, atau menghalangi sel sperma untuk mencapai sel telur, sehingga menyebabkan infertilitas atau kemandulan.
  • Masalah saat hamil
    Miom, terutama yang berukuran besar, bisa mengganggu perkembangan janin dan menyulitkan persalinan. Selain itu, tumor rahim selama hamil dapat menyebabkan janin rentan mengalami kelahiran prematur.