Malaria – Gejala, Penyebab dan Cara Mengobati

Penyakit Malaria

Penyakit malaria merupakan salah satu penyakit yang bisa menyebabkan masalah serius seperti anemia berat, gagal ginjal hingga kematian. Daerah yang rawan terjadi penularan penyakit akibat gigitan nyamuk antara lain Papua Barat dan Papua. Sampai saat ini, dokter hanya memberikan obat antimalaria sebelum bepergian ke daerah yang rawan penularan. Belum ada vaksinasi yang bisa mencegah seseorang terkena penyakit yang bisa menyebabkan komplikasi jika tidak ditangani dengan benar.

Jenis Malaria

Ada banyak sekali jenis malaria yang dibedakan menurut jenis parasit Plasmodium yang menginfeksi. Namun, hanya lima jenis Plasmodium menginfeksi manusia, yaitu:

  • Malaria falciparum
    Disebabkan oleh parasit Plasmodium falciparum. Malaria jenis ini yang paling berbahaya karena menyebabkan malaria berat disertai komplikasi. Sebagian besar kasus kematian karena malaria terkait dengan malaria jenis ini.
  • Malaria vivax
    Parasit Plasmodium vivax yang menyebabkan malaria vivax ini dapat bertahan dalam keadaan tidak aktif pada organ hati selama beberapa bulan atau tahun. Sehingga, malaria jenis ini dapat kambuh ketika parasit aktif kembali.
  • Malaria ovale
    Jenis ini disebabkan oleh parasit Plasmodium ovale dan gejala yang ditimbulkan tidak parah, serta terkadang membaik tanpa pengobatan.
  • Malaria malariae
    Malaria jenis ini baru menimbulkan gejala setelah sudah lama terinfeksi parasit Plasmodium malariae. Oleh karena itu, penderita malaria jenis ini akan mengalami infeksi yang kronis dan juga terkait dengan gangguan fungsi organ ginjal.
  • Malaria knowlesi
    Sama dengan malaria falciparum, malaria akibat Plasmodium knowlesi juga dapat berkembang dengan cepat menjadi parah, walaupun gejala awalnya ringan.

Gejala Malaria

Gejala malaria akan muncul 10-15 hari setelah gigitan nyamuk. Namun pada beberapa kasus, gejala baru timbul setelah beberapa bulan karena parasit penyebab malaria dapat bertahan dalam keadaan tidak aktif di dalam tubuh.

Gejala yang dirasakan penderita malaria antara lain:

  • Demam
  • Menggigil
  • Sakit kepala
  • Berkeringat banyak
  • Lemas
  • Pegal linu
  • Gejala anemia atau kurang darah
  • Mual atau muntah
  • Nyeri perut
  • Diare dan BAB berdarah

Serangan gejala malaria sering digambarkan melalui tiga tahap selama 6-12 jam, diawali dengan menggigil, lalu berkembang menjadi demam dan sakit kepala, kemudian penderita akan berkeringat banyak dan lemas hingga akhirnya suhu tubuh kembali normal.

Serangan gejala malaria tersebut dapat muncul dengan siklus tertentu, yaitu muncul 3 hari sekali (malaria tertiana) atau 4 hari sekali (malaria kuartana).

Penyebab Malaria

Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang disebarkan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina. Setelah gigitan nyamuk tersebut, parasit masuk ke dalam tubuh dan menempati organ hati, di mana parasit dapat tumbuh dan berkembang biak.

Saat parasit tersebut tumbuh dan menjadi dewasa, parasit pergi dari organ hati dan merusak sel darah merah. Kerusakan pada sel darah merah inilah yang menimbulkan gejala anemia pada penderita.

Di samping melalui gigitan nyamuk, penyebaran parasit malaria juga dapat terjadi karena terpapar darah penderita malaria. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan seseorang terpapar malaria adalah:

  • Janin yang terinfeksi dari ibunya
  • Menerima transfusi darah
  • Berbagi pemakaian jarum suntik
  • Menerima donor organ

Keparahan gejala malaria yang timbul berbeda-beda setiap orang. Penduduk yang tinggal di daerah yang banyak kasus malaria memiliki separuh kekebalan terhadap penyakit ini, sehingga gejala yang timbul tidak akan terlalu parah.

Namun, separuh kekebalan tersebut bisa hilang begitu seseorang pindah ke daerah di mana malaria tidak sering terjadi. Orang yang tidak memiliki separuh kekebalan dapat mengalami gejala malaria yang lebih parah. Gejala malaria juga umumnya dapat menjadi parah dan bisa menimbulkan komplikasi bila terjadi pada:

  • Balita
  • Lansia
  • Ibu hamil dan janin yang dikandungnya.

Diagnosis Malaria

Ketika pasien datang berobat dengan gejala malaria, pihak medis akan menanyakan riwayat gejala tersebut dan melakukan pemeriksaan fisik. Pihak medis juga akan menanyakan apakah pasien tinggal di daerah yang banyak kasus malaria, atau baru saja bepergian ke daerah tersebut.

Guna memastikan apakah pasien terserang infeksi malaria, pihak medis akan melakukan pemeriksaan berikut:

  • Tes diagnostik cepat malaria (RDT malaria). RDT malaria bertujuan untuk mendeteksi protein (antigen) yang bisa menjadi tanda keberadaan parasit malaria. Hasilnya dapat diketahui dalam waktu beberapa menit.
  • Pemeriksaan darah di bawah mikroskop, untuk melihat keberadaan parasit dan membedakan jenis malaria. Sampel darah bisa diambil lebih dari sekali dan diambil ketika keluhan timbul.
  • Pihak medis juga dapat melakukan tes darah lainnya, seperti uji fungsi hati atau fungsi ginjal, untuk mengetahui apakah malaria menyebabkan komplikasi ke organ lain.

Penanganan Malaria

Pengobatan malaria dilakukan dengan pemberian obat antimalaria untuk membunuh parasit. Jenis dan jangka waktu pemberian obat tergantung kepada jenis parasit yang menyerang, tingkat keparahan gejala, serta kondisi pasien.

Untuk menangani malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) membuat suatu regimen kombinasi obat yang disebut dengan artemisin-based combination therapies (ACT). Kombinasi obat tersebut adalah:

  • Kombinasi obat artemether dan lumefantrine
  • Kombinasi artesunate dan amodiaquine
  • Kombinasi dihydroartemisinin dan piperaquine
  • Kombinasi artesunate, sulfadoxine, dan pyrimethamine

Obat ini diberikan setidaknya selama 3 hari pada penderita dewasa maupun anak-anak. Sementara untuk wanita hamil pada trimester pertama, maka obat yang diberikan adalah pil kina ditambah clindamycin selama 7 hari.

Untuk penanganan malaria karena infeksi Plasmodium vivax, dapat diberikan kombinasi obat ACT atau obat chloroquine. Selain itu, guna mencegah kekambuhan malaria jenis ini, dokter dapat menambahkan obat primaquine.

Untuk malaria yang parah, penderita akan dirawat di rumah sakit dan diberikan obat melalui suntikan, setidaknya selama 24 jam pertama. Selanjutnya, obat dapat diganti menjadi tablet.

Komplikasi Malaria

Ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada penderita malaria, antara lain:

  • Anemia parah
    Anemia terjadi karena banyaknya sel darah merah yang hancur atau rusak (hemolisis) akibat parasit malaria.
  • Malaria otak
    Komplikasi ini terjadi saat sel darah dipenuhi parasit, sehingga menghambat pembuluh darah kecil pada otak. Akibatnya, otak menjadi bengkak atau rusak. Gejalanya berupa kejang dan koma.
  • Gagal fungsi organ tubuh
    Ada beberapa organ yang dapat terganggu karena parasit malaria, antara lain ginjal, hati, atau limpa. Kondisi tersebut dapat membahayakan nyawa penderita. Pada beberapa kasus, limpa dapat membesar (splenomegali) hingga lebih dari 10 cm.
  • Gangguan pernapasan
    Komplikasi ini terjadi saat cairan menumpuk pada paru-paru (edema paru), sehingga membuat penderita sulit bernapas.
  • Hipoglikemia
    Malaria yang parah bisa menyebabkan hipoglikemia atau kadar gula darah rendah. Gula darah yang sangat rendah bisa berakibat koma atau bahkan kematian.

Pencegahan Malaria

Menghindari gigitan nyamuk adalah cara terbaik untuk mencegah infeksi parasit malaria. Caranya antara lain dengan:

  • Menutup kulit dengan celana panjang dan baju berlengan panjang
  • Tidur dengan tempat tidur berkelambu
  • Memakai krim pelindung dari gigitan nyamuk
  • Jika Anda ingin bepergian ke daerah yang banyak kasus malaria, gunakan obat antimalaria seperti chloroquine, untuk mencegah Anda terkena malaria.