Leptospirosis – Gejala, Penyebab dan Cara Mengobati

Penyakit Leptospirosis

Penyakit Leptospirosis merupakan suatu penyakit yang muncul akibat infeksi dari bakteri yang disebut sebagai Leptospirainterrogans. Bakteri ini bisa ditemukan melalui urine ataupun darah dari hewan yang telah terinfeksi oleh bakteri ini sebelumnya. Beberapa hewan yang memiliki potensi untuk terkena bakteri ini adalah anjing, babi, sapi, dan kelompok hewan-hewan pengerat seperti tikus contohnya. Bakteri tersebut akan tinggal dalam ginjal dari hewan yang terinfeksi.

Gejala Leptospirosis

Terdapat beberapa gejala dari penyakit leptospirosis yang dapat mengindikasikan bahwa seseorang telah terkena penyakit tersebut. Dan diantara gejalanya adalah sebagai berikut :

  • Terasa mual
  • Meriang
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Sakit perut
  • Diare
  • Muntah
  • Muncul warna putih pada ara mata yang telah menguning
  • Demam
  • Konjungtivis
  • Ruam.

Penyebab Leptospirosis

Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans yang dibawa oleh hewan. Leptospira dapat hidup selama beberapa tahun di ginjal hewan tersebut tanpa menimbulkan gejala.

Beberapa hewan yang dapat menjadi sarana penyebaran bakteri Leptospira adalah:

  • Anjing
  • Babi
  • Kuda
  • Sapi
  • Tikus

Selama berada di dalam ginjal hewan, bakteri Leptospira sewaktu-waktu dapat keluar bersama urine sehingga mengontaminasi air dan tanah. Di air dan tanah tersebut, bakteri Leptospira dapat bertahan dalam hitungan bulan atau tahun.

Penularan pada manusia dapat terjadi akibat:

  • Kontak langsung antara kulit dengan urine hewan pembawa bakteri Leptospira
  • Kontak antara kulit dengan air dan tanah yang terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri Leptospira
  • Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri penyebab leptospirosis
  • Bakteri Leptospira dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka, baik luka kecil seperti luka lecet, maupun luka besar seperti luka robek.
  • Bakteri ini juga bisa masuk melalui mata, hidung, mulut, dan saluran pencernaan.

Leptospirosis bisa menular antarmanusia melalui ASI atau hubungan seksual, tetapi kasus ini sangat jarang terjadi.

Faktor risiko leptospirosis
Leptospirosis banyak ditemui di negara tropis dan subtropis, seperti Indonesia. Hal ini karena iklim yang panas dan lembap dapat membuat bakteri Leptospira bertahan hidup lebih lama. Selain itu, leptospirosis juga lebih sering terjadi pada individu yang:

  • Menghabiskan sebagian besar waktunya di luar ruangan, seperti pekerja tambang, petani, dan nelayan
  • Sering berinteraksi dengan hewan, seperti peternak, dokter hewan, atau pemilik hewan peliharaan
  • Memiliki pekerjaan yang berkaitan dengan saluran pembuangan atau selokan
  • Tinggal di daerah rawan banjir
  • Sering melakukan olahraga atau rekreasi air di alam bebas.

Diagnosis Leptospirosis

Proses penegakan diagnosis leptospirosis dapat dilakukan melalui gejala, riwayat penyakit pengidap, serta pemeriksaan fisik. Selain itu, beberapa tes penunjang juga dapat dilakukan untuk membantu memastikan diagnosis penyakit tersebut dan mengetahui tingkat keparahan yang dialami pengidap.

Tes penunjang tersebut, antara lain:

  • Tes urine, untuk melihat keberadaan bakteri leptospira dalam urine.
  • Tes darah, untuk melihat adanya bakteri dalam aliran darah, dan antibodi dalam tubuh. Pemeriksaan antibodi dalam darah perlu diulang lagi dalam waktu satu minggu untuk memastikan hasilnya, karena hasil positif bisa saja ditunjukkan dari infeksi lain yang terjadi sebelumnya.
  • Pemeriksaan fungsi ginjal, untuk melihat kondisi ginjal dan infeksi bakteri ini pada ginjal.
  • Pemeriksaan fungsi hati.
  • Foto Rontgen paru, untuk melihat apakah infeksi sudah menyebar hingga ke organ paru-paru.

Penanganan Leptospirosis

Infeksi leptospirosis pada umumnya tidak memerlukan penanganan khusus. Pada kondisi yang ringan, infeksi leptospirosis bisa sembuh dengan sendirinya dalam tujuh hari. Pengobatan umumnya ditujukan untuk meredakan gejala dan mencegah komplikasi.

Berikut ini adalah beberapa langkah pengobatan yang bisa dilakukan untuk penderita leptospirosis:

Pemberian obat-obatan
Jika gejala sudah timbul, pihak medis akan memberikan obat-obatan untuk meredakan gejala dan untuk mengatasi infeksi bakteri. Beberapa obat yang akan diberikan adalah:

  • Obat antibiotik, seperti penisilin, amoxicillin, ampicillin, doxycycline, atau azithromycin
  • Obat penurun demam dan pereda nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen

Perawatan di rumah sakit
Perawatan di rumah sakit dilakukan bila infeksi telah berkembang makin parah dan menyerang organ (penyakit Weil). Pada kondisi ini, antibiotik akan diberikan melalui infus.

Selain itu, pihak medis juga dapat melakukan beberapa penanganan tambahan berikut:

  • Infus cairan, untuk mencegah dehidrasi pada penderita yang tidak bisa minum banyak air
  • Pemberian vitamin K, untuk mencegah perdarahan
  • Pemasangan ventilator, jika pasien mengalami gagal napas
  • Pemantauan terhadap kerja jantung
  • Transfusi darah, jika terjadi perdarahan berat
  • Hemodialisis atau cuci darah, untuk membantu fungsi ginjal

Kemungkinan sembuh dari penyakit Weil tergantung pada organ yang terserang infeksi dan tingkat keparahannya. Pada pasien leptospirosis yang parah, kematian bisa terjadi karena perdarahan atau akibat komplikasi pada paru-paru atau ginjal.

Komplikasi Leptospirosis

Pengobatan memang dapat membantu mengurangi keparahan leptospirosis. Namun, tanpa pengobatan yang tepat, penyakit ini juga dapat menyebabkan komplikasi, seperti:

  • Meningitis.
  • Gagal hati.
  • Kerusakan ginjal (yang dapat menyebabkan gagal ginjal).
  • Masalah pernapasan.
  • Kolaps hemodinamik (syok).
  • Kematian janin (pada ibu hamil yang terinfeksi leptospirosis).
    Dalam beberapa kasus, leptospirosis yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan kematian.

Pencegahan Leptospirosis

Cara terbaik untuk mencegah leptospirosis adalah dengan menghindari paparan bakteri. Meski begitu, penyakit tersebut dapat menular baik pada manusia maupun pada sesama hewan. Maka dari itu, pencegahan leptospirosis akan terbagi menjadi dua, yaitu pada manusia, dan pada hewan peliharaan. Berikut adalah penjelasannya:

1. Pencegahan pada Manusia
Terdapat beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mencegah tertular leptospirosis, antara lain:

  • Menghindari berenang di air tawar, seperti sungai atau aliran air, yang mungkin mengandung urin hewan.
  • Hindari berenang di badan air setelah hujan deras atau banjir.
  • Tidak menyentuh atau berenang di air banjir.
  • Rawat air yang tidak aman dengan merebusnya terlebih dahulu.
  • Jauhkan atau usir hama tikus yang rentan memanifestasi rumah.
  • Kenakan pakaian atau sepatu pelindung saat menyentuh air atau tanah yang terkontaminasi.
  • Jika kamu bekerja sebagai perawat hewan, kenakan pakaian atau sepatu pelindung.

Sementara itu, jika hewan peliharaan kamu mengidap leptospirosis, inilah yang dapat kamu lakukan untuk melindungi diri sendiri:

  • Berikan hewan peliharaan antibiotik yang diresepkan oleh dokter hewan, sesuai dengan instruksi yang diberikan.
  • Hindari menyentuh urine hewan peliharaan.
  • Jika hewan peliharaan buang air kecil di dalam rumah, segera bersihkan.
  • Pastikan untuk mencuci tangan kamu setelah menyentuh hewan peliharaan.

2. Pencegahan pada Hewan Peliharaan
Inilah tindak pencegahan yang dapat dilakukan untuk melindungi hewan peliharaan kamu:

  • Jauhkan hewan peliharaan dari hewan pengerat, hewan liar, dan bangkai hewan.
  • Jauhkan hewan peliharaan dari air yang terkontaminasi, terutama setelah hujan deras atau banjir.
  • Pastikan hewan peliharaan hanya meminum air bersih.
  • Jika memungkinkan, kamu juga perlu menjauhkan hewan peliharaan dari urine hewan lain.
  • Tanyakan kepada ahli hewan apakah hewan yang kamu pelihara membutuhkan vaksin leptospirosis.