Biang Keringat - Gejala, Penyebab dan Cara Mengobati

Penyakit Biang Keringat

Marialis atau biasa disebut dengan biang keringan merupakan permasalahan kulit yang sering terjadi. Biasanya biang keringat mudah menyerang anak kecil. Penyakit biang keringat tidak berbahaya tetapi membuat permukaan kulit gatal. Jika kulit digaruk terus menerus, khawatirnya dapat menimbulkan luka. Berbahaya sekali apabila luka sampai infeksi. Biang keringat biasanya muncul di beberapa bagian tubuh.

Gejala Biang Keringat

Biang keringat merupakan kondisi yang tidak berbahaya dan tidak menular. Kondisi ini umumnya terjadi ketika seseorang berada di cuaca sedang panas atau lingkungan yang bersuhu lembap. Biang keringat kerap ditandai dengan gejala berupa:

  • Bintil-bintil kecil yang berwarna merah, terutama di tempat menumpuknya keringat.
  • Rasa gatal atau rasa perih dan tajam pada ruam.

Gejala-gejala tersebut dapat muncul di seluruh bagian tubuh dan bisa terjadi pada semua rentang usia, namun paling sering terjadi pada bayi dan anak. Terkadang biang keringat juga bisa tampak mirip dengan jerawat pasir.

Menurut dalamnya kerusakan kulit yang terjadi, biang keringat terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

  1. Miliaria kristalina
    Miliaria kristalina adalah jenis biang keringat yang paling ringan dan hanya mempengaruhi lapisan kulit teratas. Kondisi ini ditandai dengan kemunculan bintil-bintil merah berisi cairan berwarna jernih yang mudah pecah. Biang keringat jenis ini biasanya tidak gatal dan tidak terasa sakit.
  2. Miliaria rubra
    Miliaria rubra terjadi di lapisan kulit yang lebih dalam. Kondisi ini lebih sering dialami oleh orang dewasa daripada anak-anak. Gejala miliaria rubra antara lain bintil merah disertai dengan rasa gatal dan menyengat.
  3. Miliaria pustulosa
    Miliaria pustulosa merupakan perkembangan lanjutan dari miliaria rubra. Biang keringat ini terjadi ketika miliaria rubra mengalami peradangan. Tanda dari miliaria pustola yaitu bintil merah yang terisi nanah (pustule) sehingga berubah warna menjadi putih atau kuning. Adanya pustule ini menandakan mulai terjadinya infeksi kulit.
  4. Miliaria profunda
    Miliaria profunda adalah jenis yang paling jarang terjadi. Jenis miliaria ini terjadi di lapisan lebih dalam (dermis). Tertahannya keringat ini akan menyebabkan munculnya bintil merah yang lebih besar dan lebih keras. Walaupun lebih jarang terjadi, miliaria jenis ini bersifat kronis dan sering kambuh.

Penyebab Biang Keringat

Tersumbatnya kelenjar keringat menjadi penyebab utama terjadinya biang keringat, sehingga memicu munculnya ruam yang diikuti dengan peradangan. Namun, tidak diketahui apa yang menjadi penyebab pasti penyumbatan kelenjar keringat tersebut. Beberapa faktor yang diyakini bisa meningkatkan risiko munculnya biang keringat adalah:

  • Iklim tropis. Iklim maupun cuaca yang gerah dan panas serta lembap menjadi pemicu utama biang keringat.
  • Kepanasan. Penyumbatan kelenjar keringat juga bisa terjadi karena kepanasan. Ini termasuk memakai pakaian terlalu tebal atau ketat.
  • Melakukan aktivitas fisik tertentu. Olahraga membuat tubuh mengeluarkan banyak keringat, sehingga turut memicu munculnya biang keringat.
  • Kelenjar keringat yang belum berkembang. Ini menjadi penyebab utama biang keringat yang menyerang bayi. Kondisi tersebut membuat keringat lebih mudah tertahan di bagian dalam kulit.
  • Berat badan berlebih. Obesitas turut berisiko terhadap biang keringat, terlebih pada area lipatan tubuh, seperti selangkangan, leher, dan perut.
  • Berbaring terlalu lama. Ini lebih rentan terjadi pada pengidap penyakit tertentu yang harus berbaring dalam waktu lama, terlebih dengan kondisi demam.

Diagnosis Biang Keringat

Untuk mendiagnosis biang keringat, pihak medis melakukan tanya jawab seputar keluhan dan gejala yang dialami, riwayat kesehatan, dan kondisi di lingkungan sekitar pasien. Selanjutnya pihak medis akan melakukan pemeriksaan fisik dengan melihat ruam secara langsung. Tidak ada tes atau pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk memastikan diagnosis biang keringat.

Penanganan Biang Keringat

Biang keringat umumnya tidak berbahaya dan tidak membutuhkan pertolongan medis khusus. Kondisi ini dapat ditangani sendiri di rumah dengan langkah-langkah sederhana, seperti:

  • Mengompres bagian yang mengalami ruam dengan kain lembap atau es batu selama tidak lebih dari 20 menit setiap jam.
  • Membersihkan bagian yang mengalami ruam dengan air mengalir dan sabun yang lembut.
  • Menaburkan bedak talek pada bagian yang mengalami ruam untuk mengurangi rasa tidak nyaman di kulit.
  • Menjaga kulit tetap dingin, misalnya dengan berendam dan mandi.
  • Menghindari cuaca panas dan tempat yang lembap, seperti berada lebih lama dalam ruangan yang sejuk, atau menggunakan kipas angin.
  • Meminum banyak cairan agar terhindar dari dehidrasi.
  • Memakai pakaian longgar sehingga tidak menghambat pengeluaran keringat.

Jika biang keringat yang dialami cukup parah dan mengganggu, dokter dapat melakukan penanganan berupa:

  • Pemberian obat golongan antihistamin, untuk meredakan rasa gatal dan kemerahan di permukaan kulit.
  • Pemberian salep kortikosteroid, untuk meredakan rasa gatal dan peradangan pada ruam.
  • Pemberian losion calamine, untuk meredakan rasa gatal, perih, atau mengalami iritasi.
  • Pemberian obat antibiotik, untuk menangani jika terjadi infeksi sekunder pada biang keringat.
  • Pemberian lanolin anhidrat, untuk mencegah penyumbatan kelenjar keringat dan menghentikan timbulnya ruam baru.

Biang keringat jarang menyebabkan komplikasi. meski begitu, bisa terjadi infeksi sekunder pada ruam akibat digaruk.

Pencegahan Biang Keringat

Cara terbaik untuk mencegah biang keringat adalah dengan menghindari faktor risiko yang dapat memicu terjadinya penyumbatan pada kelenjar keringat. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah penyumbatan tersebut, di antaranya:

  • Menjaga kulit tubuh tetap dingin dan sejuk.
  • Menggunakan sabun yang berbahan dasar lembut dan tidak mengandung parfum.
  • Menghindari mengenakan pakaian ketat dan terlalu tebal saat cuaca sedang panas.
  • Selalu menyeka keringat yang menumpuk setelah berolahraga atau beraktivitas.